Majalah Peduli umat
Headlines News :

Latest Post

10 Tips Memilih dan Menyimpan Makanan Saat Lebaran

Written By Nisa Syahidah on Friday, 19 July 2013 | 07:45




    http://sentinelcore.files.wordpress.com/2008/09/maem.jpg
  1. Catatlah semua kebutuhan lebaran dan berbelanjalah jauh-jauh hari sebelum hari H agar tidak terganggu acara untuk beribadah dan bersilaturahmi.
  2. Khusus untuk sayuran, buah dan bahan segar lainnya lebih baik dibeli menjelang lebaran karena kesegaran bahan makanan ini turut menentukan pula kualitas gizinya.
  3. Pastikan lemari pendingin untuk menyimpan persediaan makanan lebaran dalam kondisi yang baik.
  4. Simpan sayuran di dalam kulkas setelah dicuci dalam air mengalir dan dimasukkan ke dalam plastik yang berlubang.
  5. Jika tidak ada kulkas, sayuran dapat disimpan di tempat yang sejuk seperti di kamar mandi dengan sesekali dipercik air supaya tetap lembab.
  6. Hidangan-hidangan lebaran seperti opor, rendang dan semur dapat disimpan di freezer setelah dimasukkan dalam kantung plastik dalam keadaan dingin.
  7. Usahakan untuk tidak memasukkan hidangan lebaran tersebut sekaligus dalam satu kantung. Bagilah hidangan tersebut ke dalam beberapa bagian yang kira-kira dapat habis untuk porsi sekali makan.
  8. Hindari membekukan kembali makanan yang sudah di-thawing (dilelehkan).
  9. Jika menerima bingkisan lebaran berupa makanan, periksa baik-baik tanggal kadaluarsa dan kemasan makanan tersebut, jika kaleng pengemasnya rusak (gembung / bocor / berkarat) maka pastikan bahwa makanan tersebut tidak usah lagi dikonsumsi.
  10. Selalu panaskan kembali makanan sebelum dihidangkan baik itu makanan beku yang di-thawing ataupun makanan dalam kemasan kaleng untuk menghindari keracunan akibat mikroba. (KR)

[MPU]

Hati-Hati makan berlebihan saat Lebaran




https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTvfTSvX0qaD3O3_gqdn-COswEqzClvvuG-TQkDkTptkInqrrRA_w    Hidangan khas lebaran pada umumnya berupa makanan yang lezat, gurih, dan manis. Hidangan yang semacam ini tentu banyak mengandung protein, lemak, dan gula. Menu khas yang biasanya muncul setiap lebaran adalah ketupat lengkap dengan opor ayamnya, sambal goreng hati, rendang, tidak ketinggalan pula berbagai jenis kue-kue kering serta minuman yang berasa manis.
Aneka macam hidangan lebaran tersebut tentunya terasa amat lezat apalagi setelah kita berpuasa. Tetapi janganlah itu kita jadikan sebagai ajang untuk “balas dendam” dengan menyantap habis-habisan makanan tersebut. Apabila kita lepas kontrol tentunya akan membawa dampak yang tidak baik bagi tubuh kita di antaranya: kegemukan, tekanan darah tinggi dan naiknya kadar kolesterol dalam darah.
Setelah organ pencernaan kita diistirahatkan selama 30 hari, tubuh memerlukan waktu penyesuaian kembali. Proses adaptasi ini tentu harus dilakukan secara bertahap dengan secara berangsur-angsur mengubah pola dan porsi makan. Porsi makan yang terlalu banyak dan mendadak akan berefek buruk bagi tubuh. Selain dapat membuat tubuh menjadi cepat melar, perubahan porsi yang banyak dan mendadak tersebut ternyata juga dapat mengakibatkan diare karena timbulnya luka pada saluran pencernaan.
Pengaturan pola makan kita amat penting peranannya dalam rangka mencegah naiknya kembali bobot tubuh secara drastis. Setelah berpuasa biasanya perut sudah terbiasa dengan porsi makan yang kecil. Sebaiknya untuk adaptasi kita atur pola makan kita dari yang tadinya 3 x 1 porsi sehari menjadi 6 x 1/2 porsi sehari karena bagaimanapun yang terbaik adalah makan dalam jumlah yang sedikit tetapi dengan intensitas yang sering supaya lambung kita tidak kaget karena adanya perubahan yang mendadak.
Awas Berbagai Kue
Naiknya kembali berat badan setelah sempat turun di bulan puasa merupakan peristiwa umum yang sering dialami. Bahkan kadang-kadang berat badan kita menjadi lebih tinggi dibandingkan pada saat sebelum puasa. Hal ini wajar saja karena jenis makanan yang kita santap pasca puasa adalah makanan yang manis-manis yang otomatis tinggi kandungan gulanya.
Jika kalori yang masuk ke tubuh kita tidak seimbang dengan yang dikeluarkan maka ujung-ujungnya gula yang terkandung pada makanan tersebut di dalam tubuh akan dikonversi menjadi lemak yang tersimpan dalam tubuh kita. Supaya berat badan kita tidak naik kembali dan kelangsingan tubuh tetap terpelihara diperlukan upaya keras dari kita untuk menahan segala macam godaan dari berbagai kue yang beraneka bentuk, warna, dan rasanya.
Dampak lain yang ditimbulkan akibat pola makan berlebihan saat lebaran adalah banyaknya orang yang mengalami kekurangan asupan vitamin. Vitamin diperlukan oleh tubuh untuk mengatur serta melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan. Gejala yang tampak akibat kurang vitamin ini adalah selaput lendir mulut yang cenderung pecah-pecah dan kadang-kadang sampai terjadi gusi berdarah. Di samping itu makanan dengan kandungan lemak yang tinggi serta kurangnya aktivitas fisik juga sering menimbulkan keluhan sembelit.
Jika ditelusuri, keluhan-keluhan tersebut berasal dari kurangnya jumlah asupan vitamin dan serat makanan ke dalam tubuh kita. Sumber terbaik dari vitamin dan serat alami adalah buah-buahan dan sayuran. Kedua macam bahan makanan inilah yang sering terlupa untuk dikonsumsi pada saat lebaran. Tidak hanya itu saja, pada saat sekitar lebaran biasanya makanan yang kita konsumsi adalah makanan yang berulang kali dihangatkan sebelum dihidangkan. Adanya proses pemanasan yang berkali-kali tentu akan berakibat pada rusaknya zat-zat gizi yang terkandung pada makanan tersebut termasuk juga vitamin.
Air Jeruk
Salah satu solusi untuk mengatasi gejala kekurangan vitamin ini adalah dengan membuat variasi pada menu lebaran yang kita hidangkan. Tidak ada salahnya jika kita mulai menyiapkan gado-gado/pecel ataupun lalapan sayur sebagai pendamping dari hidangan-hidangan tradisional khas lebaran tersebut. Juga jangan lupa untuk menyediakan buah-buahan segar sebagai pencuci mulut di saat lebaran sebagai pengganti cake/kue lain. Kita dapat pula mengganti minuman-minuman manis yang biasanya berasal dari sirup pabrikan (tentu mengandung bahan tambahan seperti zat pengawet dan pemanis buatan) dengan sari buah buatan sendiri. Tidak perlu harus mahal, cukup hidangkan air perasan jeruk baik hangat maupun dingin. Hal ini tentu akan memberikan nuansa lain di hari lebaran kita selain juga lebih segar, alami dan bergizi.
Pendek kata, tidak ada manfaatnya menjadi kalap saat lebaran tiba dengan menyantap semua hidangan yang ada. Sesuaikanlah porsi dan pola makan kita secara bertahap dan jangan lupa pula untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan serat yang akan membantu membuat tubuh menjadi lebih bugar dan langsing terjaga.

[MPU]

Fatin, Fenomena X Factor



Histeria massa Indonesia setelah berbulan-bulan lamanya, akhirnya berakhir juga. Apakah itu? Yupz, tak lain dan tak bukan adalah fenomena gadis mungil bersuara unik di ajang pencarian bakat X Factor Indonesia, Fatin Shidqia Lubis. Selain suara uniknya, fenomena Fatin yang lumayan membikin heboh Indonesia adalah penampilannya dengan kerudung sebagai ciri khas kemuslimahan dirinya. Banyak yang mengelu-elukan dan mendukung sebagai ikon muslimah modern; tampil di glamournya panggung musik tapi tetap menutup aurat.
Heboh makin terasa ketika dua besar diduduki oleh Fatin yang muslimah dan Novita Dewi yang non muslim. Banyak yang menganggap ini adalah selayaknya pertarungan ideologi, menang kalahnya satu keyakinan tertentu. Sehingga ketika akhirnya Fatin yang keluar sebagai juara 1 banyak yang lega karena menganggap bahwa Islam akhirnya bisa menang mengalahkan non muslim. Benarkah ini antara menang kalah muslim dan non muslim? Kira-kira adakah sudut pandang lain yang melatar-belakangi fenomena ini? Yuk kita bahas tuntas dalam edisi kali ini.
Di balik ajang cari bakat
Seorang muslim itu seyogyanya mampu berpikir kritis tentang segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Begitu juga dengan adanya banyak ajang pencarian bakat yang ujung-ujungnya berkutat dalam glamournya dunia selebritis. Dunia yang umumnya serba bebas dan tak lagi mengindahkan aturan agama. Sehingga munculnya sosok Fatin dengan kerudungnya menjadi sebuah euforia yang membuat publik Indonesia bahkan dunia terhenyak. Kok bisa?
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, dengar saja komentar Anggun yang mengabarkan bahwa ada wartawan Perancis yang heran bahwa dalam ajang sekelas X Factor ada peserta yang memakai kerudung tapi modis. Belum pernah seumur-umur di Barat ada muslimah berkerudung yang ‘nekat’ ikut ajang serupa. Secara umum, pernyataan ini membuat Fatin dan para pendukungnya melambung. Tuh kan, wartawan Perancis saja sampai memuji.
Eits, jangan senang dulu. Ingat sobat, kita harus kritis. Coba kita cermati bahwa tidak adanya muslimah berkerudung di ajang X Factor negara lain, bisa mempunyai beberapa kemungkinan. Pertama, bisa jadi tidak ada muslimah berkerudung yang bersuara bagus di sana. Kedua, ada yang bersuara bagus tapi mereka mempunyai pemahaman Islam yang lebih menyeluruh, insya Allah. Okay, kita bahas satu demi satu ya.
Kemungkinan pertama tentang tidak adanya muslimah berkerudung yang bersuara bagus di negara selain Indonesia. Saya ingat membaca buku Berjalan di Atas Cahaya karya Hanum Salsabila Rais (bukan promo). Di salah satu babnya dikisahkan oleh Hanum bahwa di salah satu kota kecil di Austria, ada seorang muslimah rapper yang suaranya unik dan bagus. Tampangnya nggak kalah dengan bintang film Barat yang suka malang-melintang di layar kaca. Bedanya, dia ini menutup aurat dengan manis dan lagu rap-nya berisi tentang ajakan kepada generasi muda untuk lebih mencintai Islam. Hmm…kira-kira Fatin ke depan, tema lagunya ada nggak ya ajakan untuk mencintai Islam dan memperjuangkannya?
Opsi kedua tentang adanya kemungkinan muslimah bersuara bagus tapi memunyai pemahaman Islam yang lebih menyeluruh. Ingat, muslim di negara Barat bukan mayoritas. Boro-boro mereka mau ikut kontes menyanyi, memperjuangkan haknya untuk berpakaian muslimah saja setengah mati. Kalo kamu rajin baca berita, muslimah di Barat sana mengalami banyak intimidasi hanya karena mereka ingin mempertahankan jati dirinya dengan berpakaian muslimah. Jadi, nggak kepikiran sama sekali untuk kontes-kontes yang intinya cuma ‘having fun’. Level mereka sudah pada hidup dan mati. Lebih jauh lagi, mereka sudah paham bahwa inti dari menjadi muslimah itu bukan untuk terlena pada gemerlap duniawi macam panggung X Factor, tapi lebih ke hati-hati membawa diri sebagai duta Islam itu sendiri.
Mereka ini sangat sadar bahwa dengan mengikuti X Factor atau ajang sejenis, itu artinya mereka akan terjun bebas ke dunia yang campur baur antara lak-laki dan perempuan nyaris tanpa batas. Berpelukan dan cipika-cipiki (cium pipi kanan-kiri) itu adalah hal biasa. Kalau tak percaya, coba amati apa yang dilakukan oleh Ahmad Dani atau peserta cowok lainnya terhadap Fatin. Sekuat tenaga Fatin berusaha menjaga jarak, tetap jarak itu terlalu sempit sehingga mau tak mau pola hidup yang seperti itu menjadi bagian diri.
Sobat gaulislam, inilah fakta di depan kita. Banyak orang menghujat dan menolak fakta bahwa ada konspirasi besar untuk menjauhkan generasi muda Islam dari pemahaman Islam itu sendiri. Baiklah, kita tidak memakai sudut pandang itu di sini. Tapi ingat, kekritisan dan beningnya nurani jangan sampai membutakan diri bahwa ada ‘something happened’ pada kontes-kontes sejenis. Kekaguman kita pada sosok Fatin yang imut, lugu, pemalu dan bersuara unik jangan sampai menumpulkan kepekaan bahwa sesungguhnya ini adalah awal dari ‘sesuatu’.
Awal dari berbondong-bondongnya muslimah berkerudung ikut kontes sejenis. Awal dari ajakan secara halus untuk terjun bebas pada dunia hedon (serba boleh) itu. Awal untuk mengalihkan fungsi busana muslimah sebagai jati diri dan bukti ketaatan pada Ilahi menjadi trend berbusana sesaat. Akan muncul jenis kerudung yang modelnya bahkan sangat jauh dari fungsi awal diturunkannya ayat tersebut (QS an-Nuur ayat 31). Tentang jilbab? Amat sangat jauh sekali (silakan baca QS al-Ahzab ayat 59).
Benar apa kata Rasulullah saw.: Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. berkata, Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Kamu akan mengikuti jejak langkah umat-umat sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jikalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu akan mengikuti mereka.” Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah! Apakah Yahudi dan Nashrani yang kau maksudkan?” Nabi saw. menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka”. (HR Bukhari-Muslim)
Idola, fitrah manusia
Mengidolakan sesuatu atau seseorang itu adalah fitrah manusia. Selalu ada sisi dalam diri kita untuk memuja atau mengagumi sesuatu atau seseorang di luar diri. Poin inilah yang dibidik oleh Simon Cowell (yang membesut X Factor) dan orang-orang yang setipe dengannya untuk mengorbitkan idola-idola baru dan mereguk keuntungan materi darinya. Muncullah berhala-berhala baru dalam dunia entertainment yang dielu-elukan hingga histeris dan pingsan. Semua perilaku, gaya berpakaian dan pola hidupnya ditiru. Remaja yang cenderung rentan, menjadi objek sasaran  utama.
Muslimah menjadi satu di antara jutaan remaja yang menjadi incaran tersebut. Fatin hanyalah salah satu dari jutaan muslimah yang memimpikan ketenaran tersebut. Dunia entertainmen ada untuk menciptakan idola-idola baru bagi remaja. Hingar-bingar gemerlap lampu panggung dan teriakan histeris para fans, menjadi candu. Berbondong-bondong remaja ingin seperti Fatin, muslimah dengan kerudungnya. Bagi yang tak bisa seperti dirinya, cukup dengan mengirim sms dukungan demi Fatin supaya menang. Mereka menganggap bahwa ‘pertarungan’ Fatin dan Novita adalah pertarungan ideologi, Islam dan Kristen. Benarkah?
Sekarang Fatin menang, so what? Tak ada yang berubah dalam kehidupan umat Islam. Yang ada adalah Fatin menjadi terkenal dan terikat kontrak milyaran rupiah. Penyelenggara pun bernafas lega dan puas karena pundi-pundi mereka gendut dari aliran sms yang jumlahnya sangat jauh lebih fantastis daripada hadiah uang, mobil dan kontrak rekaman yang diterima oleh para pemenang. Remaja Indonesia pun mempunyai idola baru, Fatin pun berhasil mengejar impiannya menjadi penyanyi dan terkenal.
Muslimah berkerudung yang dulu identik dengan ketaatan seorang hamba pada Rabbnya sekarang menjadi penghuni baru panggung hiburan. Baju berbalut busana takwa tapi pergaulan siapa bisa menduga? Di balik hingar bingar usainya ajang X Factor, sungguh terbersit khawatir dan sayang pada sosok Fatin yang lugu. Akan setegar apa dia bertahan di dunia hiburan yang serba bebas itu? Saat ini saja dia terjamah dengan mudah untuk dipeluk dan dicium oleh lawan jenis.
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR9ydc_jYrhQ_H6k0S2zaGkuisx_lRCd3J3YvfLWnCDgvTx-HK9Ketenaran telah dia raih. Besar harapan dia akan kembali ke sekolah dan menjadi anak SMA yang lugu dan cerdas untuk kembali menyadari hakikat dirinya sebagai muslimah. Bila itu terjadi, hal tersebut akan menjadi gebrakan besar dalam dunia entertainment bahwa seorang muslimah telah ‘kembali’. Ingatlah, bahwa apapun langkah yang diambil Fatin menjadi contoh bagi jutaan remaja muslimah di penjuru negeri. Takutlah kita pada apa saja yang akan menjadi penghantar bagi beratnya langkah menuju surga ataukah ringannya langkah menuju tempat sebaliknya.
Finally…
Kita tak bisa berharap banyak bahwa Fatin akan ‘kembali’ untuk menjadi muslimah yang menjaga kehormatan dirinya agar tak mudah terjamah lawan jenis. Dunia yang telah diniati untuk diterjuninya telah mengharuskan semua penghuninya untuk menanggalkan rasa malu itu. Hanya seruan saja pada para remaja muslimah yang lain untuk berhati-hati dalam memilih idola.
Sobat gaulislam, Islam itu bukan dilihat dari pemeluknya. Fatin tidak selalu mencerminkan Islam itu sendiri. Akan jauh lebih bijak bila kita belajar Islam dari sumbernya sendiri. Bagaimana al-Quran dan as-Sunah telah memberi batasan tentang pergaulan dan makna prestasi bagi seorang muslim. Dunia ini memang melenakan kawan. Tak banyak yang bisa selamat dari pusaran dunia yang terlihat indah nan gemerlap ini. Tapi semoga saja, di antara yang tidak banyak itu kita menjadi salah satu di antaranya.
Prestasi sejati bukanlah di panggung hiburan. Selain itu, ada banyak lahan yang bisa kamu pilih. Tentu saja, pastikan pilihan prestasi itu menjadikan diri mulia, bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak. Remaja muslim sejati adalah mereka yang kuat akidahnya dan taat syariat.

[MPU]

To be The Winner dng RAMADHAN..




https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSIpSIelAY5l_DEbYyJFFkSsQ-ATMQzNlfIv9rtVkWSuFklwPcoOleh : Muhammad Hatta

Allah SWT Dzat yang maha mencipta, menyempurnakan dan “mendidik” makhluqNya , selalu “berharap”, kita menjadi pemenang dalam kehidupan di atas bumi-Nya ini. Bukan hanya dengan memberi potensi terbaik atas kita, sebagaimna yang termaktub dalam At Tiin ayat ke-4,

 “ Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik baik bentuk”

Sebuah ayat yang memberikan penegasan , tentang, betapa “seriusnya” Dia menciptakan kita, lebih dari itu, Allah juga telah menyertakan potensi potensi pendukung untuk tujuan di atas.
Dari mulai disiapkannya “ segala sesuatu” untuk melengkapi dan melayani kehidupan manusia sebagaimna yang dimaksud oleh QS Al Baqarah : 29, sampaipun pada hal hal yang bersifat immaterial, sebagaimana yang telah kita rasakan selama sebulan penuh mengarungi Ramadhan 1434 H.

Sebuah bulan yang di “cipta” oleh-Nya untuk “memoles” makhluq yang bernama manusia ini , untuk sampai pada “kesempurnaan” seorang hamba , sebagaimana awal tujuan penciptaanNnya...

“Dan tidaklah kami menciptakan Jin dan Manusia, KECUALI untuk beribadah kepada-Ku”
(QS Adz Dzariaat : 56)

Ini merupakan Ayat yang mendeklarasikan visi penciptaan Tuhan atas kita.
Ramadhan ada sebagai wasilah untuk mewujudkan tujuan tersebut, mengembalikan fungsi kehambaaan kita yang sebenarnya, menggerus takabur, sombong, ego, dll yang biasanya menjadi penghalang baginya untuk mengenal Tuhannya, mentaqdsikannya,dan menyembahnya.

Menjadi hamba meniscayakan kita menggantungkan hidup hanya kepada-Nya, sebagaimana yang termaktub dalam surah al fatihah:

 “hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu sajalah kami memohon pertolongan”

Ramadhan, selalu ibarat diterjen, dengan kemampuan dan kualitas membersihkan segala kotoran hati dengan cara yang luarbiasa, yang ujung ujungnya akan menghantarkan kita semua pada derajat puncak seorang hamba yakni gelar MUTTAQIEN..(bertaqwa, yang secara bahasa diartikan sebagai hamba yang memiliki komitmen menjauhi selluruh larangan Allah dan mejalankan seluruh perintahNya, tenpa berhitung untung rugi karena keyakinan yang ututh , bahwa semua perintah-Nya pastilah membawa manfaat dan kebaikan bagi diri, keluarga dan ummat ).
 Bahkan Allah pun, telah meng i’lankan, bahwasannya dengan Ramadhan segala dosa dan kesalahan yang telah diakumulasi manusia selama tahun sebelumnya akan terhapus dengan shaum ramadhan yang dilakukan tentunya dengan hanya berharap keridhaanNya, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW :


“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, dengan penuh keikhlasan dan hanya berharap balasan Allah, akan dihapus dosa-dosanya yang telah lalu”
(Al Hadis)

Maka dengan asumsi seperti inilah diharapkan saat syawal menjelang, diri kita layak mendapatkan predikat sebagai pemenang, tentu setelah melengkapi sebulan shaum Ramadhan kita dengan zakat fitrah tentunya, sebuah bentuk ibadah sosial yang meniscayakan kita, menebar empati secara materi kepda siapapun yang membutuhkannya.

Pembaca yang dimuliakan Allah..,
Tahukah kita, bahwa saat Rasul SAW yang mulia bersama 10.000 sahabat RA memasuki Makkah pada peristiwa penakhlukan kota makkah (fathul makkah), yang terdengar dari lisan para sahabat radhiallahuanhum saat itu adalah kalimat :

“Allahuakbar allahuakbar allahuakbar..Laailaahailllallah huawallahuakbar Allahuakbar walillahilham”
“Allah maha besar Allah maha besar Allah maha besar, Tiada Tuhan selain Allah, Dialah Allah yang maha besar, Allah maha besar dan segala puji hanya atasNya”

Sebuah kalimat yang terlantun dalam rangka memuji-Nya, meng-Esa-kannya dan membesarkanNya...
Sekaligus pada saat yang sama memunculkan pengakuan tentang kerendahan hati, penghambaan dan pengakuan atas segala kelemahan diri.

Maka syawal yang tidak diiringi oleh munculnya sifat sifat fitrah kehambaan kita,kerendah hatian, kerelaan menerima perintah Allah,  tidaklah layak  disebut sebagai hari kemenangan.

Masalah yang biasanya muncul kemudian adalah , bagaimana agar kita bisa memelihara nuansa Ramdhan dalam bulan bulan setelahnya..?
(kadang kekuatan ramadhan hanya bertahan satu , dua bulan setelahnya, dan hilang saat memasuki bulan ketiga setelah ramadhan)

Jika ramadhan diangap sebagai bulan pembentukan karakter (baik yang) baru, utamanya karakter sebagai hamba, maka kita bisa melihat bahwa proses pembentukan karakter itu selalu melewati bebrapa marhalah / tahapan, dimulai dari memunculkan niatan ( sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah SAW bahwa shaum Ramdhan tanpa niat tidak akan sah, maka demikian pula posisi penting niat tersebut dalam rangkah merubah karakter diri).

Tak cukup hanya dengan kuatnya niat, melainkan harus diikuti dengan kerasnya ikhtiyar / usaha , karena hanya dengan usaha yang sungguh sungguh sajalah Nasrullah layak kita dapatkan, sebagaimana yang termaktub di dlam QS Ar Ra’du ayat 11:

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sebelum kaum tersebut (bersungguh sungguh) berupaya merubah dirinya”

Ya..hanya niat yang teraplikasi dalam usaha sungguh sungguhlah yang mampu menjemput takdir terbaik dari Allah, dan Ramadhan telah mengajarkan itu kepada kita, kuatnya niat yang menghalangi kita bahkan untuk melkukan sesuatu yang pada awalnya bernilai mubah (makan, minum dll). Dan tentunya sebuah usaha yang dilakukan secara istiqamah/ terus menerus, karena hanya dengan mengulang ulang sebuah aktifitas (kebaikan dalam hal ini), kita akan me”manen”nya menjadi sebuah karakter baru bagi diri kita.

Pada akhirnya, kita meyakini bahwa kemenagn syawal pastilah akan diraih oleh siapapun yang memiliki kesungguhan niat, ikhtiyar dan istiqamah di dlamnya. Kiranya Allah menjadikan kita semua bagian dari para memenang Ramdhan 1434 H tahun ini, sehingga akan berdampak positif terhadap keseluruhan kehidupan kita.


[MPU]

Sponsor

mas template
 
Support : Creating Website | Modif | Support Web
Copyright © 2011. Majalah Peduli umat - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Media Publish
Proudly powered by Blogger