Hikmah dibalik Ujian Hidup.. - Majalah Peduli umat
Headlines News :
Home » » Hikmah dibalik Ujian Hidup..

Hikmah dibalik Ujian Hidup..

Written By ghazi Al-Fath on Friday, 14 June 2013 | 06:49

air_bening.jpg (400×346) Ust. Drs. Muhammad Hatta
Insan Mulia…Pernahkah kita  mendengar kalimat bijak yang menyebutkan bahwa “di dalam sebuah musibah pasti ada HIKMAH dibaliknya?!”, adanya hikmah dalam setiap kejadian di atas bumi ini menunjukkan bahwasannya Allah menjamin Ke-Maha Adilan-Nya dengan memberlakukan sunatullah-Nya, meski tidak semua manusia mampu dan bisa mengambil pelajaran/ibrah dari apa yang menimpa mereka tersebut.

Ada sebuah fakta menarik  yang bisa saya bagi dalam tulisan ini, terkait dengan ujian kehidupan.
Hari hari ini para pelajar di negri ini disibukkan dengan persiapan akademik dan mental yang begitu menguras energy, bukan hanya karna kebijakan dunia pendidikan yang seringkali  membingungkan mereka, lebih dari itu , rentetan persiapan menuju ujian Nasional yang  teramat padat dan melelahkan fisik dan psikis mereka (dari mulai UTS,UAS ,ujian praktek, try out sekolah maupun dinas) terasa benar menjadi beban yang tidak ringan buat para pelajar. Rasanya hari hari ini tak sulit bagi kita melihat para siswa yang tampak tak lagi memiliki senyum se”simetris” dulu.., bahkan beberapa terlihat “pasrah” dengan hasil yang akan diraih.

Maka digelarlah berbagai acara motivasi dan doa bersama di berbagai sekolah, dengan harapan mampu mengangkat mental dan kondisi spiritual yang seakan turum seiring semakin dekatnya mereka dengan Ujian Nasional (UNAS). Maka Saat kami diberi kesempatan untuk bertemu dengan ribuan siswa di berbagi daerah dan berbagi MOTIVASI SPIRITUAL dengan mereka, ada perasaan “kasihan” melihat , betapa mereka harus dihadapkan dengan kondisi pendidikan yang tidak menentu, dan menjadikan beban mereka dalam stiap ujian menjadi semakin bertambah tiap harinya.

Nah..ketika berkesempatan berbagi dengan mereka, seringkali kami lontarkan pertanyaan sederhana sebagai pembuka sekaligus perubah MIND SET mereka, untuk tidak memandang UNAS sebagai momok yang menakutkan, dan pertanyaan pembuka tersebut biasanya saya tujukan pada salah satu peserta yang saya pilih secara acak. Saya Tanya nama dan keinginannya masuk ke sebuah PTN tertentu, sambil saya lanjutkann dengan kalimat,
“berapa usiamu nak..?”
 dia menjawab “ delapan belas tahun pak..”
Maka sayapun akan segera menimpali dengan kalimat berikutnya,
“Jika delapan belas, berarti kamu pernah melewati usia tujuh belas tahun dalam hidupmu kan?!”
Serentak biasanya mereka akan menjawab “ iya.pasti dong pak”, “ nah ketika usiamu bertambah, dari 17 menjadi 18 tahun, apakah kalian merasakan sesuatu..atau muncul kecemasan, gelisah, takut saat detik detik  terjadinya perpindahan usia dari 17 ke 18 tersebut , ataukah kalian melewatinya biasa saja, tanpa ada peristiwa yang harus dicemaskan?!”…dan pasti merekapun menjawab “iya pak biasa saja..”
Maka saat itulah saya membuat kesimpulan untuk merubah cara pandang mereka bahwa, ujian nasional tak ubahnya seperti saat akan beralihnya usia mereka, artinya dia merupakan kenisacayaan hidup yang memang harus dilalui untuk bisa masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sehingga tidak haru sangat cemas, takut, grogi, yang penting adalah bagaimana berusaha dengan cara yang terbaik,kecuali  mungkin bagi sebagian anak  yang tidak berharap sekolah lagi.

Insan mulia…, bukankah seperti  itulah kehidupan kita..?, Allah menjadikan setiap ujian hidup sebagai sebuah keniscayaan untuk menghantarkan siapa yang telah lulus untuk mendapatkan balasan terbaik dari-Nya. Lihatlah si kecil di rumah kita, bagaimana perjuangan jatuh bangunnya saat baru belajar berjalan, dan bukankah dulu kitapun mengalaminya saat belajar mengendarai dan mengendalikan sepeda kita?!, bayangkan seandainya saat pertama kali kita jatuh ketika itu, kemudian ngambek tidak mau melanjutkan belajar lagi.., bisakah kita menikmati naik sepeda seperti hari ini ?!.
Jadi ..insan mulia, saat musibah atau ujian datang ingatlah beberapa hal di bawah ini agar menjadikannya terasa lebih ringan :

1.      Membuat perbandingan berat ringannya ujian kita dengan hamba hamba mulia terdahulu
Dalam sebuah hadisnya Rasulullah SAW bersabda :
“Musibah yang menimpaku, sungguh akan menghibur kaum muslimin”
(Shahih al jami’ :5459)

“Siapa saja yang terasa berat ketika tertimpa musibah, maka ingatlah musibah yang menimpaku, ia tentu akan merasa ringan menrima musibah tersebut”
(HR Ibnu Abdil Barr)
Jika kita renungkan ke dua hadis di atas, dan kemudian secara obyektif mau melihat bagaimna Rasulullah SAW melakukan aktifitas dakwahnya, maka tentulah menjadi terasa ringan beban hidup yang kita hadapi hari ini, bukankah orang orang yang memusuhi kita, membenci, menentang bahkan memerangi sangat kecil jumlahnya jika dibanding saat beliau mengemban dakwah dien ini, insyaAllah dengan cara membandingkan dan seakan bisa “merasakan” apa yang terjadi dalam dakwah beliau dan para sahabat RA, kitapun akan menjadi lebih optimis menatap kehidupan.

2.      Meyakini bahwa di setiap peristiwa ada hikmah dibaliknya
Pernahkah kita mendengar atau membaca sebuah kalimat bijak yang berbunyi :
“Tidak ada pelaut hebat yang lahir dari laut yang tenang”
Insan mulia.., peribahsa atau kata kata bijak di atas terasa sekali kebenaran obyektifnya, bahwa memang tak aka nada seorang pelaut yang bisa dikatakan hebat sebelum mampu melewati ujian di atas laut yang sebenarnya, yakni ombak dan gulungan gelombang disertai badai yang hebat, maka saat ujian mendera, yakinilah bahwa dengan itulah kita akan menjadi lebih matang , dewasa dan lebih bijak dalam menghadapi kehidupan ini. Dan terlepas dari semua itu, ujian hidup yang mampu kita lewati dengan kesabaran dan keistiqamahan berikhtiyar akan mendatangkan Rahman dan Rahiim Allah SWT dalam wujud pahala kebaikan yang bisa jadi akan dicairkan untuk kemudahan kehidupan kita nantinya.
(pernahkah kita merasakan..saat anak anak teman dan sahabat kita banyak yang sakit, sedangkan anak dan keluarga kita sehat wal afiat, atau saat hampir semua orang mengeluhkan ketidak harmonisan rumah tangganya, justru kita merasakan hal yang sebaliknya, insan mulia… bisa jadi saat itu Allah sedang mencairkan tabungan kebaikan yang pernah kita miliki saat sabar menghadapi musibah atau ujian hidup)

3.      Yakini bahwa ujian itu pasti ada batas akhirnya
Allah SWT menyampaikan secara indah dalam al quran yang Mulia :
“Sesungguhnya setelah kesulitan pasti ada kemudahan”
(QS alam nasyrah :5)
Bahkan  Sang Maha segala Allah SWT memfirmankan ayat ini dua kali dlam satu surat yang sama, seakan Allah hendak menghibur kita bahwa tidak ada kesedihan yang kekal, dan tidak ada musibah yang abadi. Bukankah hujan badai pasti ada akhirnya, sebagaimana gelap malam berganti dengan cahaya pagi, bahkan dalam beberapa keadaan, setelah hujan muncul pula pelangi yang menyedapkan pandangan mata manusia..Subhanallah…seperti itulah ujian hidup yang kita hadapi.

4.      Yakini bahwa ujian adalah tanda Allah sayang kepada kita
Allah maha tahu kemampuan dan batas potensi setiap manusia, sehingga Allah tak kan pernah membebankan ujian yang kita tidak memiliki kekuatan untuk menyelesaikannya (lihat ayat terakhir QS Al Baqarah). Dan dengan kemaha kasih sayangan Allah pula kita mendapatkan “anugerah” ujian hidup di atas bumiNya, betapa tidak..!, jika kita mau jujur dan obyektif menilai diri, maka sesungguhnya setiap diri kita pastilah memiliki dosa dan khilaf, baik kepada sesame manusia, ataupun kpd Allah SWT, maka akumulasi dosa tersebut haruslah minim jika kita ingin mendapatkan kebahagiaan sorga-Nya, nah ..bukankah ujian hidup merupakan cara Allah untuk melunasi hutang dosa kita kepada-Nya, karena dengan sabar atas ujian, dan terus berdoa memohon kemudahan dariNya, insyaAllah akumulasi tabungan kebaikan kita akan terus bertambah, dan pada akhirnya akan bisa mengurangi tumpukan dosa dan khilaf kita.
Akhirnya,
Mari kita lewati setiap ujian hidup dengan berhusnudhan kepadaNya, bahwa kita telah diberi potensi an kemampuan untuk mengahadpinya, dan keyakinan bahwa Allah teramat adil atas makhluqnya, sehingga Allah tidak akan pernah member kita ujian hidup yang melebihi “ketahanan” kita untuk bisa lepas dari permasalahan tersebut.
Kiranya Allah menjadikan kita pribadi pribadi tangguh yang akan mendapatkan kemulyaan hidup dunia dan akhirat..aamiin ya Rabbal’alamiin.


( Trainer utama spiritual building center (SBC Kediri), penulis, Motivator dan pengasuh pengajian Radio dan Masjid)[MPU]
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Sponsor

mas template
 
Support : Creating Website | Modif | Support Web
Copyright © 2011. Majalah Peduli umat - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Media Publish
Proudly powered by Blogger